A. Tipe-Tipe Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan suatu topik yang tidak ada habisnya dibicarakan orang, sebagian orang berpendapat bahwa kepemimpinan sudah ada semenjak manusia ada. Artinya kepemimpinan dan pemimpin itu perlu ada di tangah-tengah manusia, baik selaku individu, kelompok, dan organisasi.
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
Kepemimpinan diperlukan sehubungan dengan adanya kebutuhan manusia secara individu, kelompok dan organisasi. Kepemimpinan juga merupakan alat untuk penyelesaian konflik, baik antar individu, kelompok, organisasi, baik pada tataran internal amupun eksternal. Kepemimpinan dapat pula membentuk terciptanya norma-norma atau aturan bersama dalam rangka mengatasi perilaku yang menyimpang dari para anggota organisasi.
Pemimpin dan kepemimpinannya kadang kala diartikan sebagai pelaksana otoritas dan pembuat otoritas. Serta kepemimpinan diartikan sebagai inisiatif untuk bertindak yang menghasilkan suatu pola yang konsisten dalam rangka mencari jalan pemecahan bersama. Oleh karena itu kepemimpinan dapat dikatakan sebagai fenomena sosial yang luar biasa, dimana kepemimpinan seseorang atau beberapa orang dapat menentukan dunia ini aman atau sebaliknya.
Menurut Gary Yulk (1998), kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi interpretasi mengenai kelompok/organisasi, pengorganisasian dari aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran tersebut, motivasi dari para pengikut untuk mencapai sasaran, pemeliharaan hubungan kerja sama dari orang-orang yang berada di luar kelompok/organisasi.
1. Tipe Otokratik
2. Tipe Paternalistik
3. Tipe Laissez faire
4. Tipe Demokratik
5. Tipe Kahrismatik
1. Tipe Otokratik
Tipe kepemimpinan otokratik/otoriter adalah
Ciri-ciri pemimpin yang otokratis adalah :
- memberikan perintah-perintah yang dipaksakan dan harus dipatuhi
- tindakan menentukan kebijakan untuk semua pihak tanpa berkoordinasi dengan semua anggota
- jarang memberikan informasi mendetail tentang rencana-rencana yang akan datang, akan tetapi hanya memberikan langkah-langkah kepada orang-orang untuk dilaksanakan
- memberikan pujian atau kritik pribadi terhadap setiap anggota merupakan inisatif sendiri
Pemahaman secara literatur dan analisis yang rasional tentang tipe kepemimpinan otokrtik dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Kebanyakan persepsi orang memandang tipe kepemimpinan otokratik dipandang sebagai pemimpin yang egois. Egoisme yang besar akan memungkinkan yang bersangkutan akan memutarbalikkan kenyataan yang sebenarnya sehingga sesuai dengan apa yang secara subjektif diinterpretasikan sesuai dengan kenyataan. Contohnya dalam mengiinterpretasikan disiplin para bawahan dalam organisasi. Seorang pemimpin yang otokratik akan menerjemahkan disiplin kerja yang tinggi yang ditujukan oleh para bawahannya sebagai perwujudan kesetiaan para bawahan itu kepadanya, padahal sesungguhnya disiplin kerja itu didasarkan pada ketakutan, bukan kesetiaan.
Dengan egonya yang besar, seorang pemimpin otokratik menganggap kekuasaan yang tidak perlu dibagi dengan orang lain dalam organisasi, ketergantungan total para anggota organisasi mengenai nasib masing-masing dan lain sebagainya. Pemimpin yang otokratik juga cenderung menganut nilai organisasional yang berkisar pada pembenaran segala cara yang ditempuh untuk mencapai tujuannya. Sesuatu tindakan akan dinilainya benar apabila tindakan itu mempermudah tercapainya tujuan yang dianggapnya menguntungkan dirinya.
Berdasarkan nilai-nilai di atas, maka seorang pemimpin otokratik akan menunjukkan berbagai sikap yang menonjolkan kelakuannya, antara lain dalam bentuk :
(a) kecendrungan memperlakukan para bawahan sama dengan alat-alat lain dalam
organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan
martabat mereka.
(b) pengutamaan orientasi tehadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa
mengkaitkan dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahan.
(c) pengabdian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan dengan cara
memberitahukan kepada para bawahan tersebut bahwa ia telah mengambil keputusan
tertentu dan para bawahan itu diharapkan dan bahkan untuk melaksanakannya saja.
2. Tipe Paternalistik
Tipe kepemimpinan ini banyak terdapat di lingkunagn masyarakat yang masih bersifat tradisional, umumnya di masyarakat yang agraris. Popularitas pemimpin yang paternalistik disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
a. kuatnya ikatan primordial
b. extended family system
c. kehidupan masyarakat yang komunalistik
d. peranan adat istiadat yang sangat kuat dalam kehidupan bermasyarakat
e. masih dimungkinkannya hubungan pribadi yang intim antara seorang anggota
masyarakat dengan anggota masyarakat yang lainnya.
Salah satu ciri masyarakat tradisional demikian adalah rasa hormat yang tinngi yang ditunjukkan oleh para anggota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan, serta kepada para tokoh-tokoh adat, para ulama dan guru.
Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang peranannya dalam kehidupan organisasional dapat dikatakan diwarnai oleh harapan para pengikutnya kepadanya. Harapan itu pada umumnya berwujud keinginan agar pemimpin mereka mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan untuk memperoleh petunjuk.
Disamping itu ada pandangan yang mengatakan bahwa di mata seorang pemimpin yang paternalistik para bawahannya belum dewasa dalam cara bertindak dan berfikir sehingga memerlukan bimbingan dan tuntunan terus-menerus. Konsekuensinya, para bawahan tidak dimanfaatkan sebagai sumber informasi, ide dan saran. Berarti para bawahan tidak didorong untuk inovatif dan kreatif. Penekanan yang berlebihan terhadap kebersamaan tidak memungkinkan pertumbuhan dan pengembangan individual sesuai dengan bakat dan potensi masing-masing, yang sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam tata kehidupan organisasi modern. Dengan penonjolan dominasi keberadaannya dan penekanan kuat pada kebersamaan,
3. Tipe Laissez faire (kendali bebas)
Dapat dikatakan bahwa persepsi seorang pemimpin yang laissez faire tentang peranannya sebagai seorang pemimpin berkisar pada pandangannya bahwa pada umumnya organisasi akan berjalan lancer dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang ingin ditunaikan oleh masing-masing anggota dan seorang pimpinan tidak perlu terlalu sering melakukan intervensi dalam kehidupan organisasional. Pemimpin yang laissez faire menganggap bahwa anggotanya sudah mengetahui dan cukup dewasa untuk taat kepada peraturan yang berlaku, dan pemimpin tipe ini cenderung lebih memilih peran yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi harus dijalankan dan digerakkan.
Nilai-nilai yang dianut oleh seorang pemimpin yang laissez faire dalammenyelenggarakan fungsi-fungsi kepemimpinannya biasanya bertolak dari filsafat hidup bahwa manusia pada dasarnya memiliki rasa solidaritas dalam kehidupan bersama, mempunyai kesetiaan kepada sesama dan kepada organisasi, taat kepada norma-norma dan peraturan yang telah disepakati bersama, mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadapa tugas yang harus diembannya.
Dengan sifat organisasional demikian oleh pimpinan yang memiliki kepemimpinan laissez faire, tidak ada lagi alas an yang kuat menganggap bawahan sebagai orang-orang yang tidak dewasa, tidak bertanggung jawab, tidak setia dan sebagainya. Demikianlah pandangan pemimpin yang laissez faire, nilai yang tepat dalam hubungan atasan-bawahan adalah nilai yang didasarkan kepada saling mempercayai.
Pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan laissez faire dalam memimpin organisasi, dan para bawahannya biasanya adalah sikap yang permisif, dalam arti bahwa para anggota organisasi boleh saja bertindak sesuai dengan keyakinan dan hati nuraninya asal kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisasi tetap tercapai. Prakarsanya dalam menyusun struktur tugas para bawahan dapat dikatakan minim. Kepentingan dan kebutuhan para bawahan itu mendapat perhatian besar karena dengan terpeliharanya kepentingan dan terpuaskannya berbagai kebutuhan para bawahan itu, mereka akan dengan sendirinya berperilaku positif dalam kehidupan organisasi.
4. Tipe Demokratik
Tipe kepemimpinan yang demokratis adalah pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikiutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam tipe kepemimpinan yang demokratis, pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
Baik di kalangan ilmuwan maupun di kalangan praktisi terdapat kesepakatan bahwa tipe pemimpin yang demokratis adalah tipe pemimpin yang ideal dan paling didambakan. Walau begitu, kepemimpinan yang demokratik tidak selalu merupakan pemimpin yang paling efektif dalam kehidupan organisasional, karena ada kalanya dalam hal bertindak dan mengambil keputusan bias terjadi keterlambatan sebagi konsekuensi keterlibatan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
Tetapi dengan berbagai kelemahannya, pemimpin yang demokratik tetap dipandang sebagai pemimpin terbaik, karena kelebihan yang dimilikinya mengalahkan kekurangannya.
Pemimpin demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas. Oleh karena itu pendekatannya dalam menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya adalah pendekatan yang holistik dan integralistik. Seorang pemimpin yang demokratik biasanya menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan demi tercapainya tujuan dan berbagai sasaran organisasi. Akan tetapi dia mengetahui pula bahwa perbedaan tugas dan kegiatan, yang sering bersifat spesialistik itu tidak boleh dibiarkan karena menimbulkan cara berpikir dan cara bertindak yang terkesan terkotak-kotak.
Pemimpin demokratik sebetulnya menyadari bahwa dengan memberikan kelonggaran pada bawahan, akan menimbulkan kecendrungan-kecendrungan di kalangan para bawahan dimana mereka merasa menjadi penentu dalam pencapaian tujuan organisasi. Tetapi hal tersebut dibiarkan sepanjang belum merusak mekanisme kerja secara keseluruhan.
Nilai filsafat hidup yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang dimiliki oleh tipe kepemimpinan demokratis, jelas tidak dimiliki oleh tipe kepemimpinan lain secara keseluruhan, namun sebagian kecil seperti yang dianut oleh tipe kepemimpinan yang laissez faire yang manifestasinya tentunya tidak senada dengan proses aktualisasi kepemimpinan demokratik.
Hakikatnya, fenomena harkat hidup manusia yang diutamakan pada kepemimpinan demokratik, tidak lepas dari pandangan hati nurani seseorang bahwasanya kebutuhan kebendaan, betapapun pentingnya kebutuhan tersebut. Namun masih ada kebutuhan lain seperti kebutuhan yang bersifat politik, sosial budaya, kebutuhan prestise, serta kebutuhan untuk pengembangan diri.
Perlu juga diperhatikan bahwa pendekatan yang manusiawi, cara bertindak yang mendidik bukanlah suatu kelemahan, melainkan sebagai suatu kelebihan dan sumber kekuatan pemimpin bertipe demokratis tersebut. Dengan demikian ia akan menjadi seorang pemimpin yang disegani bukan ditakuti.
Seorang pemimpin yang demokratik dihormati dan disegani dan bukan ditakuti karena perilakunya dalam kehidupan organisasional perilakunya mendorong para bawahannya menumbuhkan dan mengembangkan daya inovasi dan kreativitasnya. Dengan sungguh-sungguh ia mendengarkan pendapat, saran dan bahkan kritik orang lain, terutama bawahannya. Satu lagi karakteristik pemimpin yang demokratik, yaitu dengan cepat ia menunjukkan penghargaannya kepada para bawhan yang berprestasi tinggi dengan berbagai cara.
5. Tipe Kharismatik
Seorang pemimpin yang dikatakan kharismatik adalah seorang pemimpin yang memiliki aura kharisma dalam dirinya. Pemimpin kharismatik disegani oleh para bawahannya karena ia mampu memberi kesan wibawa pada dirinya, sehingga orang lain yang melihat termasuk para bawahannya akan merasa segan kepada dirinya.
Pemimpin yang kharismatik memiliki kesamaan karakter dengan tipe kepemimpinan paternalistik. Dimana pemimpin yang kharismatik cenderung berusaha menonjolkan sifat kepemimpinannya di hadapan para bawahannya, oleh karena itu para bawahan harus bersikap hormat kepada dirinya.
Dalam penyelesaian konflik, kharisma seorang pemimpin menjadi salah satu nilai plus. Misalnya ketika terjadi suatu demontrasi para bawahan, pemimpin yang memiliki kharisma dan kewibawaannya akan dapat menenangkan emosi para karyawan atau bawahannya tersebut. Sehingga diharapkan penyelesaian konflik akan lebih mudah untuk dilakukan.

1 komentar:
maTeri ne sangaT bermenfaaT bwT seorang pemimpin..
tipe manakah yang dijaLankan na..
ap teLah sesuai dengan kenYaTaan yg ad???
Posting Komentar